Kisah Lengkap Laila Majnun
Alkisah, terdapat kepala suku dari Bani Umar di Jazirah Arab yang tidak memiliki seorang anak. Segala usaha telah dilakukannya. Mereka juga mengunjungi beberapa tabib, namun sayangnya usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Akhirnya sang istri menyarankan agar mereka bersujud kepada Allah SWT dengan segenap jiwa dan raga. "Mengapa tidak? Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya" ucap sang suami. Akhirnya mereka benar-benar meminta kepada Allah SWT dengan menangis dan sangat memohon. Tak lama kemudian, do'a mereka terkabulkan dan mereka memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Qais kecil sudah menunjukkan kecerdasannya, mulai dari penguasaan seni berperang, melukis, menggubah syair dan memainkan musik. Qais telah dikenal oleh beberapa orang dan dikagumi oleh banyak orang.
Ketika usia Qais sudah cukup untuk sekolah, ayahnya memutuskan untuk membuatkannya sekolah yang berisi guru-guru yang masyhur dan hanya beberapa anak saja yang dapat belajar di sekolah itu. Suatu hari terdapat seorang gadis yang cantik, berambut hitam dan matanya yang sangat indah. Gadis itu bernama Laila, putri dari kepala suku sebelah. Qais dan Laila satu kelas, dari awal perjumpaan mereka sudah memiliki ketertarikan satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan dalam diam. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila. Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Hingga sedikit demi sedikit orang tau akan cinta mereka dan kabar ini sampai ditelinga keluarga Laila. Mulai sejak itu, keluarga Laila merasa malu karena pada zamannya tidaklah pantas seorang perempuan menjadi sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Kemudian Laila dipingit dalam rumah dan tidak lagi diperbolehkan sekolah. Mengetahui hal itu, Qais tidak lagi bersemangat untuk sekolah. Qais menyelusuri jalan dengan menyebut-nyebut nama Laila. Qais tidak menanggapi perkataan orang lain kecuali jika itu berkaitan dengan Laila. "Lihatlah pada Qais, ia sekarang telah menjadi majnun, gila". Sejak saat itu, Qais dikenal dengan sebutan majnun (orang yang tergila-gila pada Laila). Sampai akhirnya majnun tidak tahan lagi dengan bisikan-bisikan orang lain tentang dirinya dan ia menemukan sebuah tempat dipuncak dekat desa Laila, kemudian ia membangun sebuah gubuk untuk tempat tinggalnya. Didepannya terdapat sungai berkelok yang mengalir kebawah menuju desa Laila. Setiap harinya Majnun hanya duduk dan berbicara kepada air lalu mengalirkan bunga liar yang diyakini akan sampai kepada kekasihnya, Laila. Laila pun hanya berdiam diri dikamar tanpa mau dikunjungi oleh siapapun, sesekali ia diperbolehkan ke taman bunga dan menyendiri disana. Laila selalu mengambil bunga yang melintas disungai itu. Ia yakin, bahwa itu adalah bunga dari Majnun. Tak ada yang tahu bahwa Laila pun menyimpan cinta yang begitu dalam kepada Majnun. Jika terdapat anjing sakit yang berasal dari desa Laila, maka Majnun akan merawatnya sedemikian rupa. Semua yang berhubungan dengan Laila akan diterimanya dengan baik.
Ayah Majnun yang mengetahui semua tentang anak satu-satunya itu akhirnya memutuskan untuk menemui ayah Laila dan memintanya untuk anaknya. Ia mengirimkan kafilah yang berisi hadiah untuk Laila. Sesampainya di rumah Laila, tamu disambut dengan sangat baik. "Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu Cinta dan Kekayaan. Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan." Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, "Bukannya aku menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat," jawab ayah Laila. "Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?" Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya. Dahulu Qais adalah anak yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab. Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya.
Sepulang dari rumah Laila, ia menjemput anaknya untuk pulang dan mengadakan pesta besar dengan dihadiri berbagai wanita-wanita cantik. Melihat hal itu, Qais memandangi wajah dari wanita-wanita tersebut dan mencari kesamaan terhadap Laila. Beberapa ada yang senyumannya sama, beberapa ada yang model pakaiannya sama, namun Qais tidak menemukan satupun yang sama persis seperti Laila. Akhirnya Qais justru sedih sembari berurai air mata memikirkan Laila. Setelah mengadakan pesta tersebut, akhirnya ayah Majnun mengirim Majnun untuk menunaikan ibadah haji agar berdo'a kepada Allah supaya Allah merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan. Untuk menyenangkan hati sang ayah akhirnya Qais berangkat. Sesampainya di Makkah, ia justru berdo'a "Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja, tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup." Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya.
Selepas itu, Majnun sudah tidak mau bergaul dengan orang lagi, ia memutuskan untuk pergi ke pegunungan dan tinggal di bangunan tua. Ia meninggalkan gubuk itu tanpa memberi tahu kepada siapapun. Sampai suatu waktu, terdapat musafir lewat di reruntuhan bangunan itu, musafir tersebut melihat seorang liar dan kemudian mendekatinya. Ia mengucap salam namun tidak memperoleh jawaban. Musafir tersebut mendekatinya, menunggu hingga akhirnya orang liar itu berbicara. ketika ia berbicara, seketika musafir itu tahu bahwa ia adalah Majnun yang terkenal di penjuru dunia.
Setelah kembali ke desa Majnun, ia menyampaikan berita perjumpaannya dengan Majnun kepada orang lain sampai tembus ke ayah Majnun. Ayahnya begitu bahagia karena mendengar berita itu dan seketika menjumpai anaknya. Ia menuju ke reruntuhan bangunan yang telah ditunjukan oleh sang musafir, melihat itu, ayah Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak, anaknya terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. "Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami" jerit sang ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, "Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta." Ayah dan anak pun saling berpelukan. Itulah pertemuan terakhir mereka.
Disisi lain, Laila telah disukai oleh seorang bernama Ibnu Salam dan dinikahi olehnya. Didalam pernikahan tersebut, Laila sama sekali tidak pernah berniat mencintai pemuda itu, "Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri," katanya. "Karena itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia." Ucap Laila dengan nada dinginnya. Laila tidak pernah berbicara kalau tidak ditanya. Ia pun hanya menjawab seadanya saja. Ia sama sekali tidak pernah memberi kesuciannya sampai akhirnya suami Laila meninggal dunia. Laila benar-benar tergoncang, bukan lantaran atas kepergian suaminya, namun rasa rindunya yang sudah tak tertahan lagi kepada Qais. Laila tidak mau makan dan tidak pernah merawat dirinya sendiri. Tak lama kemudian, ia meninggal dunia. Berita peninggalan Laila sampai ditelinga Qais, ia pun pingsan beberapa hari dan setelah bangun ia pergi ke desa Laila, tak kuat berjalan, ia pun merangkak sembari memanggil Laila. Qais sampai di makam Laila dan meratapi kepergian kekasihnya itu. Belum sampai kuburan Laila genap setahun, Qais yang selalu meletakan kepalanya di makam Laila pun ikut meninggal dunia. Akhirnya ia dimakamkan tepat disamping Laila. Tepat disamping cintanya yang tak bisa disatukan. Mungkin hanya di akhirat mereka dapat hidup bersama.
Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan Tuhan. Allah swt membelai Majnun dengan penuh kasih sayang dan mendudukkannya disisi-Nya. Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, "Tidakkah engkau malu memanggil-manggilKu dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?" Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Majnun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh kasih oleh Allah SWT, ia pun bertanya-tanya, lantas apa yang terjadi pada Laila yang malang? Begitu pikiran ini terlintas dalam benaknya, Allah swt pun mengilhamkan jawaban kepadanya, "Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia cinta dalam dirinya sendiri."
Komentar
Posting Komentar