Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kematangan Emosi Remaja

Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kematangan Emosi Remaja

Kematangan emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengatur emosinya dengan baik dan tetap stabil walaupun berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan. 

Remaja adalah tumbuh atau menuju dewasa. Masa remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa dimana terjadi perkembangan pola pikir, mental dan emosi. Biasanya untuk masa remaja seseorang dapat bersifat labil yang artinya tidak konsisten atau berubah-ubah suasana hatinya. Namun, tidak semua remaja dikatakan labil karena ternyata beberapa di antaranya sudah memiliki kematangan emosi. Kematangan emosi sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan untuk masa depan. Ketika seorang remaja dapat menguasai emosinya, mereka dapat berfikir jernih dan mampu mengambil keputusan yang tepat.

Pola asuh adalah cara orang tua mengasuh, mendidik dan merawat anak hingga seorang anak dapat mengatur dirinya sendiri. Mayoritas dari anak akan meniru cara hidup orang tua, seperti cara orang tua berfikir, cara orang tua meluapkan emosi (senang, sedih, marah, dan sebagainya), cara orang tua bercakap, cara orang tua bersosialisasi, dan cara orang tua mengambil keputusan. Hal itu disebabkan karena orang tua atau keluarga merupakan lingkup terkecil yang selalu dilihat oleh anak. Seperti teori Behavior yang dikembangkan oleh Gage dan Berliner, bahwa tingkah laku didasarkan atas pengalaman (stimulus-respon). Apa yang biasa dilihat anak akan ditiru bahkan sampai ia dewasa.

Hubungan pola asuh dengan kematangan emosi remaja

Secara garis besar, pola asuh orang tua terdiri dari 3 jenis yaitu:

1. Pola Asuh Permissif

Pola asuh permisif yaitu membebaskan anak untuk melakukan apapun tanpa pengendalian dan tuntutan dari orang tua. Anak bebas memilih dan melakukan sesuatu sesuai kehendaknya sendiri. Kelebihannya yaitu anak bisa lebih percaya diri dan lebih aktif karena tidak merasa dikekang. Kekurangannya yaitu kurangnya kontrol dari orang tua menyebabkan anak akan bertindak sesuka hati tanpa memikirkan akibat dan menjadikan anak tidak taat aturan karena terbiasa hidup tanpa aturan.

2. Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter yaitu orang tua yang membatasi gerak gerik anak. Orang tua memberikan aturan dan batasan yang wajib ditaati oleh anak tanpa mengizinkan anak untuk berpendapat. Apabila anak melanggar aturan dan batasan tersebut, maka anak akan dihukum. Kelebihan pola asuh ini adalah anak akan bersikap patuh terhadap aturan, namun kelemahannya anak akan kehilangan kepercayaan diri terhadap kemampuannya dan kurang inisiatif.

3. Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis yaitu menanamkan disiplin kepada anak, menghargai kebebasan namun tetap dalam pengawasan dan kontrol orang tua. Adanya bimbingan dan pengertian kepada anak apabila pendapat dari anak tidak sesuai. Kelebihannya yaitu anak bisa menerapkan rasa tanggungjawab, disiplin, berfikir sebelum bertindak dan mampu bertindak sesuai aturan seta norma yang ada, namun terlalu banyak pertimbangan dalam menentukan keputusan terutama pada resiko yang besar.

Tentunya setiap orang tua mendidik anak dengan cara yang berbeda. Pola asuh yang diberikan oleh orang tua kepada anak akan berdampak pada kematangan emosi dan pola pikirnya. Anak akan terbiasa dengan pola hidup yang diberikan oleh orang tua, karena kematangan emosi salah satunya berasal dari interaksi. Tentu orang tua atau keluarga adalah sumber interaktif yang pertama sebelum lingkungan. Cara orang tua memperlakukan anak akan membentuk kepribadian anak secara permanen. Ketika orang tua mendidik dengan cara yang keras, anak akan terbiasa dengan kekerasan yang nantinya membentuk kepribadian yang keras pula karena secara tidak sadar, apa yang dilihat secara terus menerus oleh anak akan diresapi dan membentuk kepribadian dirinya. 

Contoh kecil adalah remaja dengan kematangan emosi yang minim, ketika suatu hari terdapat hal-hal yang menyinggung atau menyakiti dirinya, ia akan cepat marah dan melampiaskan langsung kepada orang lain. Perilaku seperti ini mungkin karena terbiasa terkena marah oleh orang tua dan hidup dilingkungan yang kurang toleransi. Berbeda dengan remaja yang emosinya stabil, ketika terdapat hal-hal yang menyinggung dirinya, mereka akan introspeksi terlebih dahulu, apabila memang benar mereka akan memperbaiki, dan apabila salah mereka cenderung tidak memperpanjang.

Komentar

Postingan Populer