Aku Hanyalah Aku
Aku mencari tempat yang sepi dan tenang agar aku bisa menangis sepuasku, agar aku bisa berbicara semauku, agar aku bisa memperlihatkan diriku yang lemah ini.
###
Perspektif sebagian orang, usian 20+ sudah sangat matang dan dewasa untuk bisa melakukan kegiatan apapun. Sebagian lagi, usia 20+ justru masuk dalam kategori pembentukan yang sangat memerlukan dukungan. Aku terbiasa melakukan semuanya sendiri, aku merasa ketika aku berusaha maka orang-orang akan senang dengan diriku. Aku berusaha keras untuk menunjukkan kemampuan diriku, agar aku berguna dimata orang lain. Lambat laun, aku terbiasa dengan hal-hal yang dianggap orang sulit. Menurutku hal-hal yang diceritakan dan dikeluhkan orang lain itu biasa, bukan karena aku tidak menghargai ceritanya, namun karena menurutku itu memang biasa, bagiku justru hal itu tidak perlu dikeluhkan. Tapi aku tetap mendengar cerita-cerita orang lain, keluhan-keluhan mereka. Terkadang, aku merasa aku lebih unggul daripada yang lainnya. Aku merasa bisa melakukan ini itu dengan hasil yang memuaskan. Aku ingin menjadi orang yang bisa melakukan semuanya agar aku menjadi wanita hebat yang dibanggakan. Aku memiliki wish list agar aku tidak lupa tujuanku. Aku mulai berlagak bisa didepan semua orang. Aku berlagak kuat didepan banyak orang. Tetapi sekarang aku merasa hal-hal yang menurutku hebat ini tidak lagi hebat. Ini adalah beban untukku. Ketika aku tidak melakukan hal itu mereka akan menganggapku buruk. Padahal orang lain belum tentu bisa. Padahal awalnya aku membantu, tapi kenapa ketika aku tidak lagi melakukan hal itu, mereka bergunjing untukku. Mereka membeberkan keburukanku. Aku lelah, aku capek, aku ingin istirahat, aku iri dengan temanku, aku ingin menjadi seperti dia yang hanya memikirkan nilai sekolah, hanya pusing mau memilih jurusan apa, bisa marah sesuka hatinya, dan bisa dimengerti oleh orang lain. Terkadang, ketika perasaanku buruk, orang-orang justru menganggapku berlebihan. Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku harus tetap ceria dan semangat? Aku harus tetap membantu ketika diriku juga perlu bantuan? Aku harus tetap tersenyum dan sopan ketika hatiku sakit karena kalian membeberkan keburukanku dibelakang? Aku harus bagaimana? Aku lelah. Aku merasa ini bukanlah diriku. Aku merasa selama ini aku telah membuat ekspektasi besar bagi kalian. Aku hanyalah aku. Aku bukan super woman. Aku bukan wonder woman. Aku hanyalah diriku. Tolong mengerti, aku juga manusia yang memiliki rasa lelah. Hanya karena aku melakukan kebiasaan yang menurut kalian sulit, bukan berarti menurutku mudah. Hanya saja aku bersabar untuk terus melewatinya. Aku percaya semua akan mereda dan aku akan bahagia. Tapi sekali lagi aku mohon, aku hanyalah aku yang memiliki sejuta kekurangan. Biarkanlah aku sendiri ketika aku diam dan marah. Biarkanlah aku istirahat ketika aku lemas dan sakit. Aku hanya ingin dimengerti. Aku hanya ingin mentalku sehat.
Komentar
Posting Komentar